Urip Ming Mampir Golek Seneng (Hidup Cuma Mampir Mencari Kebahagiaan)

06.12

Mungkin anda pernah diberi pertanyaan oleh seseorang, "Apa yang paling kamu inginkan?". Atau mungkin anda malah bertanya pada diri sendiri, "Apa sih sebenarnya yang saya inginkan?". Mungkin ada di antara kalian yang menjawab, "Saya ingin hidup tentram dan tenang". Ada juga yang menjawab, "Kalo aku sih pengen selamat dunia akhirat". Atau ada juga yang dengan lantang menjawab, "Gue pengen jadi orang sukses!harus!!!". Pernyataan yang terakhir tadi malah memunculkan pertanyaan baru, kriteria sukses itu yang bagaimana?apakah duit banyak?punya jabatan tinggi?atau disukai orang?

Dulu pikiran ini sering banget menghampiri saya. Apa sih yang saya inginkan? Apa yang sesungguhnya saya cari? Untuk apa saya melakukan semua ini? Setelah lama merenungi dan terjadi dialog panjang lebar dalam pikiran saya (ketauan banget dulu bener-bener kurang kerjaan :D), ada satu kesimpulan yang muncul dalam benak saya. Menurut saya hidup adalah mencari KEBAHAGIAAN DIRI (yaelahhhhh,,,,gitu doank pake merenung segala,,,,lebay lu ahhh). Tapi memang ini yang terjadi pada saya,,,hahahahaha.



Setiap kita melakukan sesuatu, pasti ada tujuan yang ingin kita capai. Dan sadar atau tidak, tujuan tersebut merupakan manifestasi dari rasa bahagia itu sendiri. Hmmmm,,,,contohnya saja, si A adalah seorang lulusan SMA. Dia ingin berkuliah di akademi kedinasan (dimana lulusan akademi tersebut akan langsung diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil) karena si A ingin menjadi PNS tanpa harus ikut ujian CPNS. Nah, menjadi PNS ini merupakan manifestasi dari rasa bahagia yang ingin dicapai si A untuk dirinya sendiri( terlepas dari apakah bahagia atau tidak ketika dia menjadi PNS). "Ah, gue jadi PNS cuma buat nyenengin bokap-nyokap kok, sebenernya sih gue pengen jadi astronot,"jawab si A. Lah, berarti ada tujuan lain selain kebahagiaan pribadi dong, yaitu kebahagiaan orang lain (dalam hal ini orang tua si A)?? Hmmmm,,,kalau kondisinya seperti itu, itu artinya kebahagiaan orang tua si A merupakan faktor penyebab kebahagiaan si A. si A lebih bahagia ketika orang tuanya bahagia  (karena si A berniat jadi PNS) daripada orang tuanya belum tentu bahagia (karena si A berniat tidak jadi PNS). Menurut saya, tidak ada satu pekerjaan pun yang dilakukan tanpa pamrih. Bahkan seorang Ibu yang melahirkan dan membesarkan buah hatinya dengan tulus, sebenarnya terdapat motif dibaliknya, yaitu kebahagiaan pribadi. Merawat dan melihat buah hatinya tumbuh dengan sehat merupakan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri bagi sang Ibu.

Agama sendiri menawarkan kebahagiaan sebagai tujuan dari umatnya. Kebahagiaan tersebut berupa surga. Terus bagaimana dengan orang yang mengkhususkan diri untuk beribadah, tanpa peduli pada kehidupan dunia, bahkan mungkin tidak memperdulikan keberadan surga dan neraka (mungkin seperti sufism)?? Kalau menurut saya, orang-orang ini menemukan kebahagiaan pribadi mereka hanya pada waktu melakukan ibadah tersebut. Tapi itu hanya pendapat saya saja lho ya, karena saya sendiri belum pernah jadi sufi ataupun biksu hehehe....

Berikut ini saya sampaikan ilustrasi dialektika Socrates ketika Socrates berdialog dengan Meno(Saya kurang tau dialog ini ditulis oleh siapa, karena Socrates sendiri tidak pernah menerbitkan tulisan apapun, kisah mengenai Socrates yang dipelajari sampai sekarang ini kebanyakan dituliskan oleh muridnya, Plato)
Suatu hari, Sokrates bertemu dengan Meno, sahabat lamanya, di kios ikan pasar Athena. Begitu senangnya, sehingga mereka lama berpelukan. Sokrates kemudian mengajak Meno untuk rehat di sebuah emperan rumah dekat pasar sambil sekaligus berteduh.

"Apa yang sedang kau lakukan saat ini, wahai Meno saudaraku?"

"Aku sedang menjajagi untuk membuka kios usaha di Megara, Sokrates. Makanya aku berkunjung ke Athena untuk melihat bagaimana mereka mengelola kiosnya dan barang-barang apa saja yang dapat ku ambil dari sini."

"Oh begitu. Bukankah engkau sudah punya ladang gandum yang begitu luas dari ayahmu? Apa itu tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhanmu?"
"Tidak Sokrates. Itu belum cukup bagiku. Aku ingin lebih dari ayahku. Ingin seperti Kranos, saudagar terkaya di Megara. Dia hidup sangat senang dengan semua kemewahan yang ia punya."
"Hidup sangat senang? Bisa kau berikan keterangan yang lebih jelas lagi wahai Meno?"
"Kau memang tidak tahu apa artinya hidup mewah Sokrates. Kranos itu punya segala-galanya. Budak yang ia punya lebih dari 40 orang. Perempuan pun suka padanya. Tidak kurang dari belasan perempuan hilir mudik datang ke rumah Kranos tiap harinya. Merayu untuk menjadi istrinya. Rumah itu amat megah. Berdiri kokoh dengan tiang granit dan lantai batu pualam. Tidak cukup sampai di situ, ia, Kranos, juga memiliki 4 kereta dan 10 ekor kuda. Itu hebat Sokrates. Itu baru namanya hidup."
"Terus, apa hubungannya antara hidup sangat senang dan hebat? Apakah kalau kita hidup dengan hebat maka akan hidup dengan sangat senang?"
"Itu betul Sokrates. Kita akan hidup sangat senang kalau kita hidup dengan hebat. Makanya aku datang jauh-jauh ke Athena agar bisa belajar dan mendapatkan pengetahuan yang lebih daripada Kranos. Aku akan menjadi lebih hebat dari Kranos tentunya."
Di tengah percakapan ini, seorang anak kecil bersama ibunya lewat di depan mereka. Anak itu sangat senang sekali karena ibunya membelikan ia permen gula. Ia jalan berjingkat-jingkat kecil dengan satu tangan menggenggam permen gula dan tangan lainnya memegang tangan si ibu.
"Kau lihat anak kecil itu wahai Meno?"
"Ya Sokrates. Memangnya ada apa?"
"Tadi anak kecil itu begitu senangnya. Tidakkah itu juga hebat Meno?"
"Hebat apanya Sokrates? Menurutku, itu wajar saja. Setiap anak yang diberi permen gula tentu akan merasa sangat senang."
"Jadi, kau menganggap kalau hebat itu tidak identik dengan rasa senang?"
"Maksudmu apa Sokrates?"
"Tadi kau mengatakan kita akan hidup sangat senang kalau kita hidup dengan hebat. Bukankah itu sama dengan mengatakan bahwa rasa senang itu identik dengan hebat? Artinya, kalau kita hidup dengan hebat, itu akan membuat kita hidup senang. Bukankah begitu wahai Meno sahabatku?"
Meno bingung dengan pertanyaan dan kata-kata Sokrates. Ia mulai kehilangan kata-kata.
"Iya, mungkin, Sokrates."
"Kenapa mungkin? Kalau rasa senang itu identik dengan hebat, maka anak kecil yang tadi mendapat permen gula itu pun bisa kita bilang hebat Meno. Hanya dengan sebuah permen gula yang kecil, ia bisa merasa sangat senang."
Meno akhirnya tak mampu berkata-kata. Ia merasa terpojok dengan ucapan Sokrates. Hanya dengan contoh kecil saja, Sokrates telah membuat lamunannya yang ia bangun selama bertahun-tahun menjadi sia-sia.
"Aku tidak melarangmu menjadi hebat atau melebihi kehebatannya Kranos, wahai Meno. Aku ingin kamu menentukan tujuan hidupmu menjadi hebat bukan semata-mata karena melihat orang lain."
Setelah itu, Sokrates menepuk pundak Meno, lalu mengajaknya pergi bertandang ke rumahnya untuk sekadar bersantap ala kadarnya. Meno mencari temannya terlebih dahulu
dan mereka bertiga menuju rumah Sokrates.(sumber)

Yang ingin saya bahas mengenai dialog di atas adalah wujud dari kebahagiaan tiap-tiap orang itu berbeda. Bagi anak kecil banyak sekali hal yang membahagiakan. Boleh dibilang faktor pemicu rasa bahagia sangat sederhana dan remeh. Saya ingat ketika masih kecil, saya seneng banget kalau diajak simbah saya ke pasar. Walaupun di pasar juga cuma muter-muter nemenin simbah nyari sayuran, tapi rasanya seneng banget bisa jalan-jalan. Begitu udah gede, disuruh nganter ke pasar aja ogah-ogahan hahahaha..... Sedangkan bagi orang dewasa, faktor pemicu kebahagiaan cenderung menjadi semakin kompleks dan lebih membutuhkan usaha untuk mencapainya, seperti kekayaan, jabatan, pasangan hidup dan sejenisnya. Kok gitu ya?padahal dulu waktu kecil kan kita belum mengenal konsep bersyukur (menurut saya rasa syukur sangat erat kaitannya dengan rasa bahagia), tapi kita lebih gampang bahagia daripada orang dewasa yang sudah sering diceramahi tentang bersyukur.
Yah, mungkin memang sudah kodratnya faktor pemicu kebahagiaan (motif melakukan sesuatu) masing-masing orang itu berbeda. Yang penting tetap menanamkan rasa syukur atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan YME dan seyogyanya segala upaya yang kita lakukan untuk mencapai kebahagiaan pribadi kita tidak merugikan orang lain (yang juga ingin mewujudkan kebahagiaan pribadinya). ^_^

You Might Also Like

0 komentar