Dipikir karo mikir

09.41

Taukah anda kalau titik fokus mata manusia hanya sebesar ujung jari jempol dan selebihnya adalah blur? Kalo diibaratkan sih seperti kamera dengan bukaan diafragma besar sehingga dof (depth of field) nya sempit. Sebatas itulah mata manusia, selebar ujung jempol.
Mengapa mata manusia diciptakan demikian? Karena otak manusia tidak mampu menangkap dan memproses informasi yang masuk dalam jumlah besar. Kemudian adalah tugas otak untuk membuat persepsi ataupun gambaran-gambaran untuk menutupi informasi yang tidak tertangkap/sedikit tertangkap. Dan dalam hal ini, otak bisa sangat manipulatif. 

Kenapa saya mengatakan manipulatif? Hmmmm maksudnya begini, misalnya anda berjalan sendirian di daerah yang sepi pada malam hari, ditambah lagi ada rumor angker mengenai tempat tersebut.  Maka bila tiba-tiba anda melihat sekelebat bayangan putih, anda akan langsung menyimpulkan bahwa itu adalah hantu. Kemudian anda memutuskan anda lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu. Padahal ternyata bayangan putih tersebut adalah kantong kresek yang tertiup angin.

Terkadang akal kita membuat kesimpulan yang tidak rasional. Berdasarkan data acak dan asumsi-asumsi ngawur pada akhirnya membuat kesimpulan terburuk dari seluruh kemungkinan yang ada. Dan biasanya kesimpulan tersebut dipengaruhi oleh perasaan seseorang (walaupun perasaan juga berasal dari proses di dalam otak). 


Seperti halnya yang terjadi pada sepasang kekasih yang menjalani LDR (long distance relationship). Pada suatu ketika si cewek gelisah karena si cowok tidak menghubunginya seharian ini. Tak ada telepon ataupun sms, BBM, Whatsapp, LINE, Kakaotalk, wechat, dsb dsb dari sang kekasih di seberang sana. Si cewekpun tak mau menghubungi duluan (katanya sih untuk jaga image, biar tidak dibilang gampangan). Si cewek yang dirundung kegalauan kemudikan mencoba berdeduksi. Dia merasa bahwa akhir-akhir ini si cowok mulai bersikap dingin terhadapnya. Sms pendek-pendek, telepon tidak sampai 5 menit, dsb dsb. Si cewek akhirnya menyimpulkan bahwa si cowok punya kekasih lain di seberang sana. Mulailah si cewek menangis dan ngetwit galau sepanjang malam. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah si cowok sedang sibuk dikejar deadline kerjaan dan karena lupa makan selama 3 hari akhirnya si cowok mati. 

Yang ingin saya sampaikan adalah bijaksanalah dalam berdeduksi. Kumpulkan data-data valid dan berfikir dalam keadaan tenang sebelum membuat suatu kesimpulan. Termasuk juga dalam menyikapi berita yang beredar dalam jejaring sosial maupun broadcast message. Latihlah diri anda untuk selalu klarifikasi. Jangan sampai terjebak dalam kesimpulan prematur. Karena tindakan atas kesimpulan yang terburu-buru hanya akan mendatangkan penyesalan dikemudian hari. 

Sekian dari saya, salam kuper!!

You Might Also Like

0 komentar