Takes Side

18.50

sumber : http://screenrant.com/batman-v-superman

Setelah sekian lama hanya mampu menuliskan beberapa puisi (yang mungkin akan dibilang, "Basiiikk!" oleh Cinta), saya mulai berpikir mau diapakan blog saya ini? Saya merasa harus segera menulis untuk menghidupkan atau setidaknya meyambung nafas blog saya yang mati suri ini.

Sejujurnya sampai kalimat ini saya ketik, belum terfikirkan tema apa yang akan saya tulis. Sebetulnya banyak hal menarik dewasa ini yang dapat dikomentari. Mulai dari panasnya pilgub DKI jakarta, demo penistaan agama yang barusan dilaksanakan, drama perseteruan antar komikus yang menghiasi lini masa Facebook, lomba nge-Diss yang ditujukan ke rapper yang lagi naik daun, hingga pernyataan penuh misteri Nikita Mirzani, "Hotel Dharmawangsa".

Saya sendiri secara pribadi tidak terlalu menyenangi perdebatan (dan cenderung menghindarinya), oleh karenanya saya tidak mengemukakan pendapat terbuka mengenai hal-hal tersebut. Hal ini mungkin dialami dan dilakukan juga oleh beberapa dari kalian. Tapi menurut pemahaman saya, ada satu yang pasti. Dalam lubuk hati terdalam, kita pasti berpihak pada salah satu sisi. Apakah keberpihakan itu salah?

"Because God is tribal. God takes sides."
Itu adalah kata-kata Lex Luthor dalam film Batman vs Superman : Dawn of Justice. Mungkin kalimat tersebut ada benarnya. Dalam salah satu epic Homerus, The Iliad, diceritakan bahwa dalam Perang Troya, pertempuran yang terjadi tidak hanya antara bangsa Yunani dan Troya. Dewa-dewa pun ikut terlibat bahkan sampai turun ke medan pertempuran untuk membantu masing-masing pihak. Dalam kitab agama saya sendiri dalam beberapa bagian dikatakan dengan jelas bahwa Tuhan sendiri mengutuk golongan yang dinilai melenceng dari ajaran-Nya. Jadi, jika Tuhan saja berpihak, manusia sebagai pewaris turunan dari sifat-sifat Nya tidak biaa lepas dari keberpihakan. Keberpihakan adalah kodrat.

Dalam suatu kondisi, beberapa orang mengemukakan jalan tengah terkait suatu hal. Seperti yang pernah diajarkan di SD misalnya, kebijakan demokrasi terpimpin yang diambil oleh Presiden Soekarno pada penghujung tahun 50an. Kebijakan tersebut pada akhirnya tidak berjalan baik dan cenderung mengkhianati semangat demokrasi itu sendiri. Seperti halnya fenomenalisme Immanuel Kant yang mencoba menjembatani rasionalisme dan empirisme malah menimbulkan kritik karena pemikirannya itu sendiri masih ada dalam dunia rasio.

Keberpihakan adalah suatu keniscayaan dan saya fikir keberpihakan itu perlu. Dengan mengambil posisi yang jelas, kita mampu untuk segera merencanakan langkah-langkah yang sekiranya perlu kita ambil dan menghindari cap sebagai hipokrit. Malah dengan berpihak, kita menunjukkan bahwa kita mampu mengambil sikap dan menentukan tujuan. Dan hal tersebut merupakan salah satu aspek penting sebagai pemimpin, dalam memimpin diri sendiri sekalipun.

You Might Also Like

0 komentar